Beranda / Peristiwa / Kemarau Panjang, Toren Kering! Warga Makarti Jaya Keluarkan Rp 150 Ribu Seminggu untuk Air, Harga Hasil Kebun Anjlok

Kemarau Panjang, Toren Kering! Warga Makarti Jaya Keluarkan Rp 150 Ribu Seminggu untuk Air, Harga Hasil Kebun Anjlok

Berikut adalah draf berita online yang telah disesuaikan dengan detail spesifik dari Bapak Putu di Desa Pangestu, lengkap dengan sudut pandang beban ganda (krisis air dan anjloknya harga hasil kebun) yang dialami warga. **BANYUASIN** – Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Banyuasin berdampak serius pada ketersediaan air bersih di se-Kecamatan Makarti Jaya. Penampungan air (toren) di rumah-rumah warga kini mengering, memaksa masyarakat membeli air isi ulang. Di tengah himpitan ekonomi akibat anjloknya harga hasil kebun, warga mendesak Pemerintah Desa (Pemdes) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk segera mengambil aksi nyata. Berdasarkan pantauan di lapangan, sumber air tanah di sejumlah desa di Makarti Jaya mulai habis. Kondisi ini membuat toren air di rumah-rumah warga kosong melompong. Untuk memenuhi kebutuhan dasar, warga kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air bersih atau air isi ulang yang harganya kini berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per galon. Salah seorang warga Desa Pangestu, Bapak Putu, mengungkapkan penderitaan yang ia dan warga lainnya rasakan sejak sebulan terakhir. Ia mengaku harus mengeluarkan uang cukup besar hanya untuk kebutuhan air minum keluarga. "Sudah sebulan ini kami selalu membeli air. Dalam satu minggu, untuk kebutuhan air minum saja bisa habis sampai 10 galon. Kalau harganya Rp 15.000 per galon, artinya kami harus keluar uang Rp 150.000 hanya untuk air minum seminggu," ujar Putu, Selasa (13/10/2026). Putu menambahkan, beban pengeluaran tersebut terasa sangat mencekik karena berbarengan dengan anjloknya harga komoditas hasil perkebunan dan pertanian warga. Kondisi ini menciptakan beban ganda yang sangat menyulitkan perekonomian keluarga. "Ini semakin menyulitkan kami. Di satu sisi harus keluar uang banyak untuk beli air, tapi di sisi lain harga hasil kebun kami dibeli dengan sangat murah. Penghasilan tidak sebanding dengan pengeluaran yang sekarang membengkak," keluhnya. Menanggapi kondisi yang semakin mendesak ini, warga se-Kecamatan Makarti Jaya tidak lagi hanya berharap pada bantuan *dropping* air tangki yang sifatnya parsial. Mereka mendesak Pemdes dan Pemkab Banyuasin untuk turun langsung dan membuat aksi nyata yang menyentuh akar permasalahan. "Kami sangat berharap pemerintah desa maupun kabupaten tidak diam saja. Kami butuh aksi nyata, bukan sekadar janji. Kami minta ada terobosan, baik itu subsidi air bersih di masa darurat ini, maupun percepatan pembangunan infrastruktur air bersih yang bisa dinikmati jangka panjang," tegas Putu mewakili suara warga yang resah. Hingga berita ini diturunkan, warga Makarti Jaya masih bertahan dengan membeli air galon untuk bertahan hidup. Sinergi dan langkah cepat dari para pemangku kebijakan sangat dinantikan agar krisis air dan himpitan ekonomi warga segera teratasi. **(Red)** *** **Tag:** #KrisisAirBersih #MakartiJaya #DesaPangestu #Banyuasin #KemarauPanjang2026 #HargaHasilKebunAnjlok #AksiNyataPemerintah
Kemarau Panjang, Toren Kering! Warga Makarti Jaya Keluarkan Rp 150 Ribu Seminggu untuk Air, Harga Hasil Kebun Anjlok

**BANYUASIN** –

Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Banyuasin berdampak serius pada ketersediaan air bersih di se-Kecamatan Makarti Jaya. Penampungan air (toren) di rumah-rumah warga kini mengering, memaksa masyarakat membeli air isi ulang.

Di tengah himpitan ekonomi akibat anjloknya harga hasil kebun, warga mendesak Pemerintah Desa (Pemdes) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk segera mengambil aksi nyata.Berdasarkan pantauan di lapangan, sumber air tanah di sejumlah desa di Makarti Jaya mulai habis. Kondisi ini membuat toren air di rumah-rumah warga kosong melompong. Untuk memenuhi kebutuhan dasar,

Warga kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air bersih atau air isi ulang yang harganya kini berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per galon.Salah seorang warga Desa Pangestu, Bapak Putu, mengungkapkan penderitaan yang ia dan warga lainnya rasakan sejak sebulan terakhir. Ia mengaku harus mengeluarkan uang cukup besar hanya untuk kebutuhan air minum keluarga. Sudah sebulan ini kami selalu membeli air. Dalam satu minggu, untuk kebutuhan air minum saja bisa habis sampai 10 galon. Kalau harganya Rp 15.000 per galon, artinya kami harus keluar uang Rp 150.000 hanya untuk air minum seminggu,” ujar Putu, Selasa (13/10/2026). Putu menambahkan, beban pengeluaran tersebut terasa sangat mencekik karena berbarengan dengan anjloknya harga komoditas hasil perkebunan dan pertanian warga. Kondisi ini menciptakan beban ganda yang sangat menyulitkan perekonomian keluarga.”Ini semakin menyulitkan kami. Di satu sisi harus keluar uang banyak untuk beli air, tapi di sisi lain harga hasil kebun kami dibeli dengan sangat murah. Penghasilan tidak sebanding dengan pengeluaran yang sekarang membengkak,” keluhnya.

Menanggapi kondisi yang semakin mendesak ini, warga se-Kecamatan Makarti Jaya tidak lagi hanya berharap pada bantuan *dropping* air tangki yang sifatnya parsial. Mereka mendesak Pemdes dan Pemkab Banyuasin untuk turun langsung dan membuat aksi nyata yang menyentuh akar permasalahan.”

Kami sangat berharap pemerintah desa maupun kabupaten tidak diam saja. Kami butuh aksi nyata, bukan sekadar janji. Kami minta ada terobosan, baik itu subsidi air bersih di masa darurat ini, maupun percepatan pembangunan infrastruktur air bersih yang bisa dinikmati jangka panjang,” tegas Putu mewakili suara warga yang resah.Hingga berita ini diturunkan, warga Makarti Jaya masih bertahan dengan membeli air galon untuk bertahan hidup. Sinergi dan langkah cepat dari para pemangku kebijakan sangat dinantikan agar krisis air dan himpitan ekonomi warga segera teratasi. ** H45 **

 

 

 

 

 

 

 

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *